Bisakah penderita epilepsi puasa?

Bagi penderita epilepsi, Ramadhan dapat menawarkan tantangannya sendiri. Karena berbagai perubahan pola makan dan tidur yang terjadi selama puasa dapat meningkatkan risiko kejang. Namun, dapatkah seseorang dengan epilepsi benar-benar berpuasa selama bulan Ramadhan? Jika memungkinkan, bagaimana Anda bisa berpuasa dengan aman? Baca penjelasan di bawah ini.

Bisakah penderita epilepsi puasa?

Hingga saat ini, penelitian ilmiah yang membahas tentang efek puasa di bulan Ramadhan bagi penderita epilepsi masih sangat terbatas. Namun, jika dikumpulkan dari berbagai studi kasus dan penelitian, dalam praktik puasa justru dapat meningkatkan risiko orang dewasa dengan kejang. Namun, semua ini kembali ke kondisi tubuh yang berbeda dari masing-masing orang dan juga dengan jenis perawatan yang dialami selama puasa.

Karena itu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli saraf Anda sebelum menjalani puasa. Dokter dapat memungkinkan Anda untuk berpuasa dengan kondisi tertentu, seperti harus cukup tidur atau mengubah jadwal pengobatan.
Hasil penelitian tentang epilepsi dan puasa di bulan Ramadhan

Sebuah studi dalam jurnal Neurology 2015 menemukan bahwa 46,7% orang dengan epilepsi mengalami lebih banyak episode kejang selama bulan Ramadhan daripada sebulan sebelum dan sesudah Ramadhan. Risiko ini meningkat ketika Anda menjalani perawatan polifarmasi. Bahkan Anda yang menjalani monoterapi tetap rentan, tetapi kemungkinan kejang kecil. Studi ini juga menunjukkan bahwa sebanyak 69,4 persen orang yang mengubah program asupan obat selama puasa lebih rentan terhadap kejang selama puasa.

Hasil penelitian serupa juga telah dilaporkan sebelumnya oleh tim ahli Turki. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Seizure 2008, melihat bahwa perubahan dalam program asupan obat meningkatkan risiko kejang selama puasa. Namun, tidak seperti penelitian tahun 2015, dalam penelitian ini jenis monoterapi dan perawatan polifarmasi tidak mempengaruhi risiko kejang.
Mengapa puasa berisiko bagi penderita epilepsi?

Meskipun para ahli belum sepakat jika seseorang dengan epilepsi bisa berpuasa, ini adalah hal-hal yang tampaknya meningkatkan risiko mengalami kejang di bulan puasa.

Perubahan dalam model asupan obat
Perubahan pola tidur, termasuk kurang tidur karena harus tidur
Kelelahan dan stres
Jangan makan dan minum berjam-jam

Panduan puasa untuk penderita epilepsi

Jika setelah mempertimbangkan berbagai risiko di atas dan berkonsultasi dengan dokter, Anda tetap ingin berlari kencang, perhatikan pedoman puasa yang aman bagi penderita epilepsi yang mendasarinya.

Jangan kehilangan dosis obat. Tetap perbarui program Anda dengan obat-obatan baru yang telah dimodifikasi oleh dokter Anda. Jika Anda lupa, segera minum ketika Anda ingat.
Tidur cukup setiap hari. Karena Anda harus bangun pagi untuk Sahur, cobalah tidur lebih cepat. Kurang tidur dapat mengganggu aktivitas otak dan memicu kejang epilepsi.

Pertahankan gaya hidup sehat. Dengan mengonsumsi makanan sehat saat sahur dan berbuka puasa, Anda bisa mencegah berbagai penyakit yang bisa membuat Anda lebih rentan terhadap kejang.
Hindari penyebab stres dan aktivitas fisik yang berlebihan. Dua hal ini dapat memicu lonjakan listrik di otak dan menyebabkan kejang.

Baca juga :