Kewajiban Arsitek Kepada Pengguna Jasa

Kewajiban Arsitek Kepada Pengguna Jasa

Dalam menjalankan profesinya, arsitek tidak lepas dari hubungan kerja dengan pengguna jasa. Hubungan di antara mereka setara dalam arti setiap orang memiliki hak yang harus diperoleh dan kewajiban yang harus dipenuhi. Kedua hal ini biasanya diatur oleh kesepakatan antara kedua pihak yang disebut kontrak konstruksi. Kontrak kerja konstruksi adalah semua dokumen kontrak yang mengatur mengenai hubungan hukum antara pengguna jasa dan layanan jasa (dalam perhal ini yang dimaksud dengan arsitek) diperhelatan jasa konstruksi. Hal tersebut langsung tertuang dalam paragraf 8 pasal 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.

KOMPETENSI
Praktik arsitektur harus dilakukan dengan profesionalisme penuh, tanggung jawab, keterampilan dan pengetahuan. Satu-satunya cara untuk mengkonfirmasi kompetensi ini secara hukum adalah dengan mendapatkan sertifikat arsitektur profesional sesuai dengan peraturan saat ini. Arsitek pula wajuib selalu memahami aturan yang berlaku saat menerima tugas desain ataupun perencanaan. Kepatuhan terhadap undang-undang ini dimaksudkan tidak hanya untuk melindungi pengguna jasa, tetapi juga untuk melindungi arsitek dan masyarakat yang nantinya akan menggunakan benda-benda yang menjadi objek proyek arsitek.

Dalam dunia jasa bangunan, trust merupakan nilai tukar yang dijual dimana-mana. Arsitek harus memastikan bahwa dengan kualifikasi, kompetensi, dan sumber pendanaan yang dimilikinya, arsitek dapat melaksanakan pekerjaan sesuai dengan standar yang diinginkan oleh pengguna jasa. Jika tidak memungkinkan, arsitek dapat bekerja sama dengan arsitek lain yang memiliki kualifikasi, kompetensi dan sumber pendanaan yang sesuai untuk dapat memenuhi tugas yang ditetapkan oleh pengguna jasa.

Dunia bergerak sangat cepat. Persaingan memperebutkan kepercayaan pengguna jasa juga semakin ketat. Oleh karena itu, arsitek harus mengembangkan kemampuannya sendiri untuk memperoleh keterampilan yang memadai untuk mendapatkan kepercayaan dari pengguna jasa.

Pengguna jasa biasanya memiliki tujuan khusus saat membuat objek yang mereka butuhkan. Tujuan ini harus disebutkan dalam kontrak kerja. Namun, sebagai penyedia jasa perencanaan, arsitek juga perlu memiliki standar minimal yang ditetapkan oleh organisasi profesinya, yaitu: 1. lingkup penugasan (memuat elemen apa yang harus direncanakan oleh arsitek), 2. pemisahan kekuasaan dan tanggung jawab. (job description), 3. batasan kewenangan dan tanggung jawab (job description), 4. perhitungan biaya layanan (menentukan tarif penagihan untuk arsitek dan staf pendukung) dan 5. prosedur pelaksanaan tugas (metode kerja). Kelima hal ini, digabungkan dengan hal-hal lain yang diinginkan oleh pengguna jasa, harus dimasukkan dalam kontrak karya, dan pelaksanaannya harus dilakukan oleh dua pihak yang terikat perjanjian, yaitu pengguna jasa dan arsitek.

Karena posisi kedua belah pihak sama dalam perjanjian kerja, arsitek tidak dapat mengganggu standar penugasan minimum atau standar kerja tambahan bagi pengguna jasa yang ditentukan secara sepihak dalam kontrak kerja. Pengguna layanan harus menyadari perubahan dalam masalah ini, dan sebaliknya.

Dalam kontrak karya, tarif arsitek ditentukan dan disepakati. Tidak masuk akal untuk menuntut biaya lain untuk layanan dari pengguna layanan atau dari pihak lain yang terlibat dalam aktivitas ini, selain yang telah ditentukan dalam perjanjian operasi.

KERAHASIAAN
Ada banyak kemungkinan bahwa objek yang dirancang oleh seorang arsitek adalah objek pribadi pengguna layanan. Mungkin juga objek yang diproyeksikan merupakan objek untuk digunakan secara keseluruhan, namun ada bagian atau hal tertentu yang menjadi privasi pengguna layanan. Arsitek berkewajiban untuk mematuhi standar etika perancang, dengan tetap menjaga kerahasiaannya dari publik, kecuali pengguna layanan menginginkan sebaliknya atau tidak diinginkan oleh petugas hukum, seperti pengadilan.

KEJUJURAN DAN KEBENARAN
Kejujuran mahal hari ini. Melaporkan secara jujur ‚Äč‚Äčaktivitas profesional Anda, melaporkan perkembangan tugas secara rutin, dan menolak untuk menawarkan atau mengirim hadiah kepada calon pengguna atau pengguna layanan untuk mendapatkan pekerjaan adalah sebagian dari bukti kejujuran ini.

Pelanggaran terhadap hukum atau kode etik profesi atau pelanggaran kode etik profesi akan merusak reputasi arsitek dan mempengaruhi kepercayaan calon pengguna jasa.

Kemajuan harus dikomunikasikan kepada pengguna layanan, terutama jika durasi kontrak kerja cukup lama dan sangat terkait dengan kegiatan lain yang berkaitan dengan perencanaan arsitek. Masalah yang mempengaruhi kualitas, biaya dan waktu perlu dinegosiasikan dengan pengguna layanan untuk menemukan solusi bersama.

Pengetahuan dan kualitas tenaga ahli sangat mempengaruhi hasil perencanaan. Kualitas bangunan, jembatan, monumen / monumen atau karya arsitektur lainnya akan tetap terjaga jika arsitek menganut standar profesional yang ketat dan mengabaikan kepentingan lain.

PERBEDAAN KEPENTINGAN
Arsitek sering terjebak dalam konflik kepentingan. Jika ini terjadi, arsitek harus mengambil posisi untuk secara terbuka mengkomunikasikan perbedaan kepentingan tersebut kepada pengguna jasa. Jika keputusan pengguna layanan membahayakan atau merugikan pengguna layanan, arsitek, masyarakat, lingkungan, atau pihak lain yang terlibat, arsitek harus dapat mengkomunikasikan hal tersebut kepada pengguna layanan. Jika komunikasi ini tidak efektif, arsitek dapat melibatkan pihak lain yang berkompeten sebagai perantara.