Rumus Cara menghitung PPN

Cara menghitung PPN – Dalam ulasan ini kita akan belajar cara menghitung PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Nah, tahukah Anda apa yang dimaksud dengan PPN atau Pajak Pertambahan Nilai terlebih dahulu? Kami membuka ulasan kami kali ini membahas arti sebenarnya dari PPN. Intinya, yang dimaksud dengan pajak pertambahan nilai atau disingkat PPN adalah pajak yang dikenakan pada setiap nilai tambah barang atau jasa yang diedarkan oleh produsen kepada konsumen. Ini adalah jenis pajak konsumsi yang dalam bahasa Inggris disebut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak atas Barang dan Jasa (GST).

PPN termasuk jenis pajak tidak langsung, dalam arti bahwa pajak dibayar oleh pihak lain (pedagang) yang bukan pembayar pajak atau, dengan kata lain, pembayar pajak (konsumen akhir) tidak secara langsung menyetor pajak yang adalah tanggung jawab. Pengumpulan, pengarsipan, dan pelaporan PPN dilakukan oleh pedagang atau produsen, sehingga muncul istilah Pengusaha Kena Pajak, disingkat PKP.

Dalam perhitungan PPN yang harus dibayar oleh PKP, istilah pajak produksi dan pajak hulu diketahui. Pajak hilir adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya, sedangkan pajak hulu adalah PPN yang dibayarkan ketika PKP membeli, membeli atau memproduksi produk.

Pajak pertambahan nilai (PPN)

Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN, yaitu 10% untuk pengiriman nasional dan 0% untuk ekspor. Dasar hukum utama yang digunakan untuk penerapan PPN di Indonesia adalah hukum n. 8 tahun 1983 setelah amandemen, yaitu hukum n. 11 tahun 1994, hukum n. 18 tahun 2000 dan hukum n. 42 tahun 2009.

Tarif PPN saat ini adalah 10% (sepuluh persen) dari harga jual yang ditetapkan dalam pasal 7 undang-undang PPN 1984. Sementara tarif PPN 0% (nol persen) diterapkan untuk ekspor barang kena pajak, ekspor barang terkait pajak tidak berwujud dan ekspor jasa kena pajak (JKP).

Dengan peningkatan pembangunan dan peningkatan permintaan, pemerintah diberi wewenang untuk mengubah tarif PPN, yang setidaknya 5% (lima persen) dan paling banyak 15% (lima belas persen). Perubahan ini diungkapkan oleh pemerintah di Dewan Perwakilan Rakyat dalam konteks pembahasan anggaran negara untuk rencana penerimaan dan pengeluaran (RAPBN).

Setelah mengetahui arti PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dan sebagainya, mungkin beberapa teman masih bingung dengan jumlah tarif PPN dan cara menghitung PPN (Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai) atau contoh PPN. kemudian kami juga membahas dasar hukum PPN dan barang dan jasa yang dikenakan PPN, kali ini kami mencoba membahas tarif PPN dan perhitungan PPN.

Lalu bagaimana dengan pengenaan PPN? Ketika transaksi barang atau jasa kena pajak yang dikenakan pajak dilakukan, PPN dipungut oleh Perusahaan dikenakan pajak (PKP) dari penjual sehingga pembeli PPN yang dikumpulkan oleh penjual Perusahaan dikenakan pembayaran adalah pembayaran pajak dimuka (pajak panggilan). menerima faktur pengumpulan pajak. bahkan ketika barang kena pajak dikirim ke pihak lain atau ke pembeli dan PKP penjual mengumpulkan PPN, disebut (pajak hilir) dan harus mengeluarkan faktur sebagai bukti pengumpulan PPN.
Rumus Cara menghitung PPN (pajak pertambahan nilai)

Perhitungan PPN sebenarnya sangat sederhana dan tidak serumit yang diperkirakan. Untuk menghitung PPN dengan benar dan benar, tuliskan rumus berikut untuk menghitung pajak PPN:

Contoh masalah Menghitung PPN

PT. Remaja saat ini adalah perusahaan kena pajak yang melakukan penjualan tunai produknya ke PT. Kolang Kaling yang juga merupakan perusahaan kena pajak dengan harga jual Rp. 50.000.000, – jatuh tempo PPN adalah:

Tarif pajak X Harga jual = Pajak terutang

10% X Rp. 50.000.000 = Rp. 5.000.000

oleh karena itu PPN adalah Rp. 5.000.000 adalah pajak keluar yang dipungut oleh perusahaan PT. Pemuda Saat Ini dan merupakan biaya yang dibebankan kepada PT. Kolang Kaling.
Contoh kasus lain penghitungan pajak PPN:

PT. Valve Tbk melakukan transaksi berikut untuk seluruh bulan Juli:

Beli bahan baku seharga Rp. 400.000.000 (pajak yang harus dibayar)
Beli bahan pendukung seharga Rp. 100.000.000 (pajak yang harus dibayar)
Menjual produk mereka seharga Rp. 700.000.000 (biaya keluar)

Perhitungan 10% X 400.000.000 = 40.000.000 (pajak harus dibayar)

10% X 100.000.000 = 10.000.000 (pajak terapan)
10% X 700.000.000 = 70.000.000 (biaya keluar)